Dalam berbagai industri, seperti instalasi pengolahan limbah, pabrik makanan dan minuman, hingga sektor energi, roots blower memiliki peran penting sebagai mesin yang mengalirkan udara atau gas dengan volume besar secara stabil.
Namun, banyak perusahaan masih sering kali salah dalam menentukan kapasitas maupun tekanan kerja yang sering kali berakibat fatal, seperti konsumsi listrik menjadi boros, mesin cepat panas, bahkan umur pakai blower menurun drastis.
Oleh karena itu, Kami coba membahas langkah yang tepat menentukan roots blower yang tepat untuk kebutuhan Anda.

Roots blower adalah mesin yang digunakan untuk mengalirkan udara atau gas dalam jumlah besar pada tekanan rendah hingga menengah. Prinsip kerjanya menggunakan dua lobus atau rotor yang berputar secara sinkron di dalam casing. Saat rotor berputar, udara terjebak di antara lobus dan dinding casing, lalu didorong keluar menuju saluran keluaran dengan tekanan tertentu.
Baca Juga : Definisi Root Blower, Fungsi Hingga Cara Kerjanya
Berbeda dengan blower jenis sentrifugal yang meningkatkan tekanan melalui kecepatan putaran impeller, roots blower bekerja dengan sistem displacement. Artinya, setiap putaran rotor akan memindahkan volume udara yang tetap, sehingga aliran udara yang dihasilkan lebih stabil dan konstan.
Roots blower banyak digunakan pada berbagai aplikasi industri, seperti:

Agar roots blower yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan, ada beberapa langkah praktis yang dapat dijadikan panduan:
Langkah pertama adalah memahami tujuan penggunaan blower. Apakah untuk aerasi limbah, pneumatic conveying, atau aplikasi khusus lain? Setiap proses memiliki kebutuhan kapasitas udara (m³/min atau CFM) dan tekanan kerja (mbar/kPa) yang berbeda.
Baca Juga : Roots Blower vs Screw Blower: Apa Perbedaan dan Pilihan Terbaik untuk Industri Anda?
Contohnya untuk aerasi kolam limbah biasanya membutuhkan aliran udara besar dengan tekanan rendah (200–400 mbar), sementara untuk conveying material mungkin butuh tekanan lebih tinggi (500–800 mbar).
Kapasitas adalah seberapa banyak udara yang harus dipasok blower setiap menit. Kapasitas ini dipengaruhi oleh:
Kesalahan umum adalah memilih blower dengan kapasitas jauh lebih besar dari kebutuhan → hasilnya boros energi dan biaya listrik.
Tekanan adalah seberapa besar dorongan yang dibutuhkan untuk mengalirkan udara ke sistem. Tekanan dipengaruhi oleh:
Jangan memilih tekanan terlalu tinggi hanya “untuk jaga-jaga”, karena blower akan bekerja lebih berat dan boros listrik.
Kapasitas dan tekanan yang sudah ditentukan harus dikonversi ke kebutuhan daya motor listrik (kW). Pastikan motor yang dipilih cukup kuat untuk mendukung kinerja blower, tapi tidak berlebihan.
Contoh: Blower dengan kapasitas 10 m³/min pada tekanan 600 mbar mungkin memerlukan motor 7,5 kW.
Kondisi ini memengaruhi pemilihan material blower, sistem pendinginan, dan perlindungan tambahan.
Setelah data kapasitas, tekanan, dan kondisi lingkungan terkumpul, langkah berikutnya adalah mengkonsultasikan ke vendor atau distributor resmi. Biasanya mereka akan membantu melakukan sizing dengan software atau perhitungan teknis agar spesifikasi tepat.
Anda dapat berkonsultasi langsung dengan PT Intidaya Dinamika Sejati karena Kami merupakan distributor resmi roots blower di Indonesia yang sudah berjalan sejak lama.
Harga awal blower memang penting, tapi jangan abaikan biaya operasional:
Memilih blower yang hemat energi dan mudah dirawat sering kali lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibanding hanya memilih berdasarkan harga termurah.
Baca Juga : Tips Perawatan Root Blower agar Tidak Mudah Rusak
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda bisa memastikan roots blower yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan proses, efisien, dan memiliki umur pakai yang panjang.