Pernahkah Anda merasakan casing root blower yang terlalu panas saat disentuh? Atau mungkin temperature gauge menunjukkan angka yang jauh di atas normal?
Overheating atau panas berlebih adalah salah satu masalah paling umum yang dihadapi operator root blower di berbagai industri. Masalah ini tidak boleh dianggap sepele karena jika dibiarkan, dapat menyebabkan kerusakan serius pada bearing, seal, rotor, bahkan motor penggerak yang berarti biaya perbaikan mahal dan downtime produksi yang merugikan.
Kabar baiknya, sebagian besar kasus overheating dapat diatasi dengan langkah troubleshooting yang sistematis. Dalam artikel ini, kita akan coba membahas penyebab umum root blower panas berlebih dan solusi praktis yang bisa Anda terapkan untuk mengembalikan performa optimal peralatan Anda.

Sebelum mencari solusi, penting untuk memahami akar masalahnya. Berikut adalah penyebab paling umum mengapa root blower mengalami overheating:
Kurangnya pelumasan atau oli yang kotor
Ini menjadi penyebab nomor satu. Oli berfungsi tidak hanya sebagai pelumas tetapi juga sebagai pendingin untuk bearing dan gear. Ketika level oli rendah atau oli sudah terkontaminasi, gesekan meningkat drastis dan menghasilkan panas berlebih.
Filter udara tersumbat
Hal ini membuat blower bekerja lebih keras untuk menarik udara, meningkatkan beban kerja motor dan menghasilkan panas ekstra. Resistansi intake yang tinggi juga menciptakan vakum parsial yang menambah stress pada komponen internal.
Tekanan discharge terlalu tinggi
Tekanan terlalu tinggi akhirnya memaksa blower beroperasi melawan back pressure berlebihan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh pipa outlet tersumbat, valve yang tidak sepenuhnya terbuka, atau sistem downstream yang bermasalah.
Ventilasi buruk atau suhu ambient tinggi
Ventilasi buruk di ruang instalasi membuat panas yang dihasilkan blower tidak dapat dibuang dengan efektif. Root blower membutuhkan sirkulasi udara yang baik untuk menjaga suhu operasional normal.
Bearing aus atau rusak
Bearing rusak menghasilkan gesekan berlebihan dan panas tinggi. Bearing yang sudah melewati umur pakainya akan kehilangan kemampuan untuk berputar smooth, menyebabkan hot spots pada shaft.
Misalignment antara motor dan blower
Keadaan ini menciptakan beban tidak seimbang yang menghasilkan vibrasi dan panas. Bahkan misalignment kecil dapat berdampak signifikan pada suhu operasional.
Overloading atau operasi melebihi kapasitas
Overload memaksa semua komponen bekerja di luar batas normalnya, menghasilkan panas berlebihan di seluruh sistem.
Baca Juga : Roots Blower vs Screw Blower: Apa Perbedaan dan Pilihan Terbaik untuk Industri Anda?

Dengan penyebab seperti itu, roots blower menjadi rentan overheating. Lalu bagaimana cara mengatasi hal tersebut? Anda dapat mengikuti proses dibawah ini.
Langkah pertama dan paling krusial adalah memeriksa sistem pelumasan. Matikan blower dan tunggu hingga dingin, kemudian cek level oli melalui sight glass atau dipstick. Level oli harus berada di antara tanda minimum dan maksimum.
Jika level rendah, tambahkan oli dengan spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan, biasanya ISO VG 68 atau 100 untuk gear oil. Perhatikan juga warna dan kondisi oli. Oli yang sehat berwarna bening kekuningan. Jika oli sudah hitam, berbusa, atau mengandung partikel logam, segera lakukan penggantian total.
Untuk blower dengan sistem sirkulasi oli, periksa juga pompa oli dan salurannya. Pastikan tidak ada kebocoran dan pompa beroperasi dengan normal. Sistem pelumasan yang optimal dapat menurunkan suhu operasional hingga 15-20 derajat Celsius.
Lepas housing filter dan inspeksi kondisi elemen filter. Filter yang tersumbat akan terlihat gelap dan padat dengan kotoran. Jika filter masih dalam kondisi baik secara struktural, Anda bisa membersihkannya dengan compressed air dari sisi bersih ke arah kotor.
Namun, jika filter sudah terlalu kotor, rusak, atau sudah dibersihkan beberapa kali, sebaiknya ganti dengan yang baru. Filter baru akan mengembalikan aliran udara optimal dan mengurangi beban kerja blower secara signifikan. Dalam banyak kasus, penggantian filter sederhana dapat menurunkan suhu operasional hingga 10 derajat.
Setelah pemasangan, pastikan seal filter terpasang dengan sempurna untuk mencegah udara bypass yang kotor masuk ke sistem.
Periksa pressure gauge pada discharge line dan bandingkan dengan spesifikasi design. Jika tekanan jauh lebih tinggi dari normal, cari penyebabnya di sistem downstream. Periksa valve-valve apakah semuanya fully open, inspeksi pipa untuk kemungkinan penyumbatan, dan pastikan tidak ada pembatasan aliran yang tidak seharusnya.
Untuk sistem pneumatic conveying, material yang menumpuk di pipa atau separator bisa menjadi penyebab back pressure tinggi. Bersihkan sistem secara menyeluruh. Turunkan tekanan operasional ke level normal akan mengurangi beban kerja blower dan menurunkan suhu secara drastis.
Jika sistem memerlukan tekanan lebih tinggi dari kapasitas blower, pertimbangkan untuk upgrade ke unit dengan kapasitas lebih besar daripada memaksakan blower existing.
Evaluasi kondisi ruangan atau area instalasi blower. Pastikan ada ruang minimal 50-100 cm di sekeliling blower untuk sirkulasi udara. Jangan menempatkan blower di ruang tertutup tanpa ventilasi memadai atau terlalu dekat dengan dinding.
Untuk instalasi indoor, pertimbangkan pemasangan exhaust fan untuk membuang udara panas keluar ruangan. Ventilasi natural melalui jendela atau louvers juga efektif jika dirancang dengan baik. Beberapa kasus mungkin memerlukan instalasi cooling fan tambahan yang mengarah langsung ke casing blower.
Jika blower beroperasi di lingkungan dengan suhu ambient sangat tinggi (di atas 40°C), pertimbangkan penggunaan heat shield atau insulasi untuk melindungi blower dari sumber panas eksternal seperti furnace atau boiler.
Bearing yang aus adalah penyebab serius overheating dan harus segera ditangani. Tanda-tanda bearing rusak termasuk suara grinding atau squealing, vibrasi abnormal, dan tentunya panas berlebih di area bearing housing.
Untuk pemeriksaan awal, Anda bisa menggunakan thermometer infrared untuk mengukur suhu bearing. Perbedaan suhu lebih dari 20°C antara bearing di satu sisi dengan sisi lainnya mengindikasikan masalah. Periksa juga ada tidaknya play atau looseness pada shaft dengan menggoyang secara manual (saat blower off).
Jika bearing terbukti rusak, ganti dengan bearing berkualitas tinggi yang sesuai spesifikasi OEM. Jangan tergoda menggunakan bearing murah karena umur pakainya jauh lebih pendek dan bisa menyebabkan masalah berulang. Saat mengganti bearing, selalu ganti seal oil juga untuk memastikan sistem pelumasan bearing optimal.
Misalignment adalah masalah yang sering terabaikan tetapi berdampak besar. Coupling yang misaligned menciptakan beban lateral pada bearing dan shaft, menghasilkan panas dan vibrasi berlebih.
Pemeriksaan alignment basic bisa dilakukan dengan straight edge atau dial indicator. Namun, untuk hasil akurat, gunakan laser alignment tool. Toleransi alignment untuk root blower biasanya dalam range 0.1 mm untuk angular dan parallel offset.
Jika Anda tidak memiliki keahlian atau tools untuk alignment precision, sebaiknya memanggil teknisi profesional. Alignment yang tepat tidak hanya mengurangi overheating tetapi juga memperpanjang umur bearing dan coupling secara signifikan.
Jika blower beroperasi pada atau dekat kapasitas maksimum secara terus-menerus, overheating hampir pasti akan terjadi. Evaluasi apakah demand sistem memang sesuai dengan kapasitas blower atau sudah melebihi.
Pertimbangkan untuk menurunkan kecepatan operasional jika menggunakan VFD (Variable Frequency Drive), atau cycle operasi dengan rest period jika memungkinkan. Untuk kebutuhan jangka panjang yang melebihi kapasitas blower existing, upgrade ke unit yang lebih besar adalah solusi terbaik daripada overwork blower current.
Pencegahan selalu lebih baik dan lebih murah daripada perbaikan. Implementasikan program maintenance preventif yang mencakup pemeriksaan rutin level dan kondisi oli (mingguan), pembersihan filter (bulanan), dan monitoring suhu operasional (harian).
Lengkapi blower dengan temperature monitoring system jika belum ada. Sensor suhu digital dengan alarm dapat memberikan early warning sebelum overheating menjadi serius. Beberapa sistem modern bahkan bisa shutdown blower otomatis jika suhu melewati threshold yang ditentukan.
Buat checklist untuk operator yang mencakup poin-poin kritikal seperti pemeriksaan visual bearing, mendengarkan suara abnormal, dan mencatat pembacaan temperature gauge. Data historis ini sangat berharga untuk predictive maintenance.
Selalu gunakan spare parts original atau aftermarket berkualitas tinggi. Bearing, seal, dan oli murah mungkin menghemat di awal, tetapi biaya total ownership-nya jauh lebih tinggi karena downtime dan penggantian lebih sering.
Investasikan pada training untuk operator dan maintenance team. Pemahaman yang baik tentang karakteristik operasional normal root blower memungkinkan deteksi dini masalah sebelum menjadi kritis.
Baca Juga : Roots Blower untuk Industri Petrokimia: Fungsi dan Aplikasinya
Overheating pada root blower adalah masalah serius yang memerlukan tindakan cepat dan tepat. Kunci utamanya adalah deteksi dini melalui monitoring rutin dan respons cepat sebelum masalah kecil berkembang menjadi kerusakan major.
Ingat, root blower yang beroperasi pada suhu normal tidak hanya lebih efisien tetapi juga memiliki umur pakai jauh lebih panjang. Program perawatan preventif yang konsisten adalah investasi terbaik untuk menjaga keandalan dan menghindari biaya perbaikan mahal di kemudian hari.
Jika Anda menghadapi masalah overheating yang kompleks atau berulang, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional. Untuk kebutuhan root blower berkualitas tinggi dengan sistem pendinginan optimal dan support teknis yang handal, hubungi PT Intidaya Dinamika Sejati, distributor resmi root blower Pedro Gil di Indonesia.
Pedro Gil root blower didesain dengan sistem thermal management superior dan komponen berkualitas tinggi untuk operasi yang reliable bahkan dalam kondisi demanding. Tim teknis kami siap membantu Anda dengan konsultasi, troubleshooting, penyediaan spare parts original, hingga layanan maintenance profesional.